Harga rumah Cilaki19 pada tahun 2013 disepakati sebesar Rp 12.000.000.000 (dua belas milyar). Sesuai kesepakatan keluarga lainnya, harga tersebut adalah harga jual bersih. Dengan kata lain, keluarga saya tidak berkewajiban membayar segala bentuk pengeluaran yang diperlukan selama proses jual-beli berlangsung, karena sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembeli.

Sebagai pertimbangan calon pembeli, saya ingin menambahkan informasi bahwa ketika kami mulai menawarkan rumah Cilaki19 dengan harga Rp 8 milyar, banyak orang merasa keberatan dengan harga tersebut. Rupanya keberatan ini karena harga jual terlalu tinggi, dan kemungkinan fee perantara otomatis berkurang. Tetapi ketika harga tersebut bertahan hingga beberapa waktu, malah beberapa perantara lain menawarkan harga Rp 9 hingga 10 milyar--dengan asumsi mendapat selisih penjualan antara Rp 1-2 milyar. Di waktu yang sama, salah satu tetangga berhasil menjual rumahnya seharga Rp 7 milyar, dan kurang dari 1 tahun kemudian (setelah sedikit renovasi) sudah ditawarkan kembali untuk dijual oleh pemilik barunya seharga Rp 11 milyar.

UPDATE JANUARI 2014

Untuk tahun 2014, keluarga saya rencananya akan menaikkan harga jual terkait penyesuaian harga. Tetapi kemudian kami batal menaikkan harga, dan memilih menggunakan sistem penawaran tertutup. Artinya, calon pembeli harus memberikan tawaran yang dinilai sesuai dengan keinginan keluarga saya. Kami akan memberitahukan jika penawaran tersebut sudah dirasa cukup dan disetujui seluruh ahli waris.

Sebelum mengontak kami, mohon dipastikan jika Anda adalah pembeli dengan persyaratan berikut.
  1. Anda adalah calon pembeli sebenarnya;
  2. Anda bukan perantara/orang kepercayaan/saudara/dll, apalagi datang sebagai marketing penjualan rumah;
  3. Anda siap membeli rumah kami dengan harga jual bersih, dan keluarga saya tidak bertanggungjawab membayar biaya-biaya yang mungkin diperlukan dalam proses jual-beli;
  4. Anda siap mengajukan penawaran tertutup mengenai harga jual rumah yang diinginkan.
Untuk mengontak kami, silahkan menelepon ke 022 - 727 2357,
atau melalui email ar @ seindy . com (ditulis tanpa spasi).

Anda juga bisa mengontak saudara saya melalui kontak iklan di Toko Bagus,
pada halaman iklan "Rumah Belanda".

Rumah Cilaki 19 memiliki tanah seluas 423 meter persegi, dan sudah bersertifikat Hak Milik sejak tahun 1980-an. Bentuk tanah rumah nyaris kotak—hanya menyerong sedikit di bagian belakang yang kuldesak dengan rumah lain di jalan Saninten, dan posisinya menghadap ke timur.

Bangunan rumah saat ini diperkirakan mencapai 250 meter persegi. Bangunan asli peninggalan Belandanya diperkirakan seluas 150 meter persegi (bangunan utama), dan sisanya bangunan baru yang ditambahkan (bangunan tambahan, paviliun 1, paviliun 2). Fasilitas pendukungnya adalah listrik 1.300 Watt, air PAM (ledeng), dan dua saluran telepon.

Lokasi rumah berada di ring Gedung Sate, dekat jalan Supratman. Strategis mengikuti trend pengembangan area hunian yang berubah menjadi tempat komersial, seperti yang sudah merambah ke beberapa rumah di lingkungan sekitar.

Jauh sebelum menjadi area komersil pendukung,
rumah Cilaki 19 sudah beberapa kali dikontrak (sebagian) menjadi kantor, atau sebatas kostan mahasiswa. Tetapi karena kebutuhan tempat tinggal sementara hingga kerusakkan pasca sewa, keluarga kami lebih memilih menggunakan sendiri. Namun sepeninggal nenek beberapa tahun lalu, seluruh generasi kedua bersepakat menjual rumah warisan ini demi kebaikan seluruh keluarga.

Saya sebetulnya sangat ingin menjelaskan arsitektur rumah Cilaki 19, tapi karena tidak menguasai bidang tersebut, jadilah keterangan di bawah ini sebatas “struktur rumah”. Semoga bisa dipahami sebagai pengantar.

Secara struktur asli, rumah Cilaki 19 sebetulnya hanya memiliki ruangan ini:
1 ruang tamu
1 ruang keluarga
1 kamar tidur orang tua (terletak di paling depan, jendela menghadap ke timur)
1 kamar tidur anak (yang tersambung pintu ke kamar tidur orang tua)
1 kamar tidur pembantu
1 kamar mandi
1 kamar tidur penjaga (yang terpisah dari bangunan utama)

Di luar seluruh bangunan tersebut, terdapat halaman nan luas dari depan, memutar ke samping rumah, terus ke belakang, hingga bertemu kembali di halaman depan. Halaman depan saat ini dominan ditempati aneka tanaman, demikian pula halaman samping yang sekarang menjadi halaman Paviliun 2. Jadi untuk parkir mobil di dalam rumah, hanya tersisa halaman paviliun 1, dan sedikit di halaman. Cukuplah untuk 2-3 mobil.

Sebagaimana bangunan Belanda pada umumnya, dinding-dinding rumah dibangun lebih dari 2,5 meter, sehingga langit-langit pun berada jauh di atas. Ventilasi bangunan asli menggunakan jendela-jendela berukuran besar, lengkap dengan rongga dinding di seluruh bagian rumah. Lalu seluruh kusen, pintu, hingga daun jendela menggunakan kayu jati.

Hal berbeda tentu didapati pada paviliun (1) dan (2), serta bagian belakang rumah yang masing-masing merupakan bangunan ‘menempel’ pada bangunan asli. Tiap bangunan ini berdiri menyesuaikan kebutuhan pada jamannya. Misalnya paviliun (1) dibangun awal tahun 1980-an, diikuti kamar pembantu, kamar setrika, dan paling akhir sekitar awal 1990-an, paviliun (2). Teras rumah pada bangunan utama sendiri belum pernah mengalami penambahan, hanya dipasangi auning sekitar akhir tahun 1980-an.

Kalau dihitung ulang, rumah Cilaki 19 pada tahun 2013 sekarang sudah lebih dari 90 tahun. Bukti pembangunan pada bulan Desember 1922 itu terletak di salah satu dinding sebelah jendela dalam ruang tamu, tersembunyi di balik cat tembok putih. Usia bangunan yang cukup lama ini terkait fungsi rumah yang ditujukan sebagai tempat hunian para perwira menengah (perwira lebih rendah ditempatkan di kawasan belakangnya, seperti jalan Saninten, Rasamala, dll).

Celoteh camar yang menarik tentang rumah Cilaki 19 adalah saat Perang Dunia II pecah di Eropa. Seperti kita tahu, Belanda dalam PD II menghadapi dua musuh sekaligus: tentara rakyat Indonesia dalam Perang Kemerdekaan, dan tentara Jerman dalam Perang Eropa. Demi mengupayakan keselamatan maksimal Ratu Wilhelmina, konon sang Ratu akan dievakuasi ke Bandung secara diam-diam. Nah, rumah Cilaki 19 kabarnya dipilih sebagai tempat tinggal persembunyian sang Ratu—tanpa alasan yang tidak diketahui. Apakah rencana tersebut benar adanya? Saya sendiri lupa dari mana kisah ini berasal: apakah dari nenek atau para tante?

Namun yang pasti, beberapa belas tahun lalu pernah ada dua bule Belanda bertandang ke rumah kami ini. Mereka secara terbuka mengagumi rumah peninggalan tersebut, dan akhirnya menjelaskan bahwa salah satu dari mereka adalah keturunan pemilik asli rumah Cilaki 19. Sayang, meski sempat menginap, tapi tidak banyak kisah lain yang bisa digali dari pertemuan itu. Selain karena persoalan bahasa yang menyulitkan komunikasi, tetapi keluarga kami tidak bisa berempati lebih jauh atas kedatangan keduanya.

rumah Cilaki 19 sendiri mulai ditempati keluarga kami sejak tahun 1958. Sepertinya, penempatan pada waktu itu bersamaan dengan perubahan status rumah dan perusahaan peninggalan Belanda di seluruh Indonesia—yang ditempati tentara dan sipil Belanda sebelum pemulangan ke negara asalnya.

Sejak mulai menempati rumah ini, keluarga kami silih berganti mengisi ruang-ruang yang kosong. Keluarnya beberapa pemilik generasi kedua setelah berkeluarga atau bekerja di luar kota, tidak serta-merta membuat rumah menjadi lengang. Sebaliknya, kamar-kamar baru dibangun karena ada keluarga baru yang menetap di rumah ini. Keluarga saya adalah salah satunya.

Lalu setelah hampir seluruh generasi kedua berumahtangga, dan terlebih sepeninggal kakek, tinggallah tante saya yang paling bungsu menempati rumah ini bersama nenek sebagai penghuni utama. Penghuni tambahan adalah para generasi ketiga yang tinggal bergantian untuk menyelesaikan sekolah masing-masing, termasuk sepupu-sepupu lain yang datang dari daerah asal kakek dan nenek.

Banyak kenangan akan tetap tinggal di dalam rumah bersama ini. Menjualnya tentu menjual seluruh kenangan yang pernah ada, tetapi inilah keputusan bersama dari 8 orang ahli waris rumah Cilaki 19. Paling tidak agar semua anggota keluarga besar dapat menikmati manfaat peninggalan kakek dan nenek, tanpa terkecuali, pun tanpa beban apa-apa.

Berdasarkan tahun membangun dan peruntukkannya, saya membagi bangunan rumah Cilaki 19 menjadi beberapa bagian. Berikut jenis bangunan dan jumlah ruangan pada masing-masing bagian.

Bangunan Utama
Bangungan Utama atau bangunan asli (Belanda) dibangun sejak Desember 1922 [sekilas sejarah rumah], memiliki ruangan sebagai berikut.
1 ruang tamu
1 ruang keluarga
3 kamar tidur
1 kamar mandi
1 dapur kering

1 gudang

Bangunan Tambahan

Bangunan pendukung atau tambahan yang sebagian menempel dengan bangunan utama memiliki ruangan sebagai berikut.
1 kamar pembantu
1 kamar setrika
1 dapur
1 kamar mandi

Paviliun 1
Bangunan pendukung yang berada di sebelah kiri rumah adalah paviliun (1), dibangun awal tahun 1980-an, dengan menambah 1 kamar tamu dan 1 kamar mandi menempel ke bangunan asli. Total ruangan dalam paviliun ini sebagai berikut.
1 ruang tamu
1 kamar tidur [lihat bangunan asli]
1 kamar mandi

Paviliun 2
Bangunan pendukung yang berada di sebelah kiri rumah adalah paviliun (2), adalah bangunan paling akhir yang didirikan dari seluruh bangunan. Paviliun ini memiliki ruangan sebagai berikut.
1 kamar tidur
1 kamar mandi

Halaman
Untuk ruang terbuka tanpa bangunan di atasnya, saya membaginya menjadi beberapa bagian, yaitu:
- Halaman depan
- Halaman samping (di depan paviliun 1)
- Halaman belakang samping (di depan kamar mandi paviliun 1, sering digunakan tempat menjemur pakaian)
- Halaman samping dalam (di depan paviliun 2, terpisah oleh pagar tembok dengan halaman depan)
- Halaman belakang (di depan dapur, sering digunakan tempat menjemur pakaian)



==============================

Info Tambahan: Tentang Struktur Rumah

==============================

Website Cilaki 19 ini dibuat oleh Seindy selaku salah satu generasi kedua keluarga pemilik rumah. Tujuan utama pembuatan web ini adalah:
  1. Mengiklankan rumah Cilaki 19 melalui promosi resmi yang dilakukan oleh anggota keluarga. Sebelumnya sudah pernah dilakukan promosi menggunakan surat kabar oleh anggota keluarga yang lain, tetapi tidak dilanjutkan setelah beberapa waktu.
  2. Mengiklankan rumah Cilaki 19 melalui promosi resmi yang tidak dimuat dalam website khusus iklan penjulan rumah. Cara ini ditempuh mengingat masih adanya agen-agen penjualan properti yang menawarkan rumah Cilaki 19 melalui website-website khusus iklan rumah dengan mengatasnamakan  nama mereka masing-masing, padahal sudah dinyatakan jika penjualan tidak dilakukan melalui perantara.
  3. Bukan untuk menugaskan Seindy menjadi negosiator atau mewakili keluarga dalam penjualan rumah, melainkan untuk mempromosikan rumah sesuai point (1) dan (2).
  4. Untuk menegaskan bahwa setiap orang yang datang ke (lokasi) rumah, haruslah calon pembeli sebenarnya--dan bukan perantara.
Website ini sendiri akan segera ditutup setelah transaksi penjualan dilakukan, atau dihibahkan pada pemilik baru.

Catetan buat keluarga:
Semisal ada masukan dari anggota keluarga untuk web ini, langsung kabari di forum WhatsApp kita ya... :)

Catetan teknis:
Biar nggak salah paham, design web ini bukan buatan Seindy, melainkan hasil modifikasi oleh Best Blogger Themes | Premium Blogger Themes dari desain asal yang dibuat Fab Themes | Web2feel.